ASSALAMUALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH!

SELAMAT DATANG KAWAN-KAWAN KU YANG BER-AGAMA ISLAM! MARI DENGAN SAYA MEMBUAT BLOG YANG ISINYA TENTANG ISLAMI SEMOGA BISA MEMBUAT TEMAN-TEMAN LEBIH TAHU TENTANG ISLAM & MEMBUKA HATI TEMAN-TEMAN AGAR KITA BERTAKWA KEPADA "ALLAH SWT"

Sabtu, 21 Mei 2011

Alasan Kenapa Nabi Muhamad SAW Sangat Menyukai Kucing

Kita mungkin pernah denger kalau
Nabi suka banget sama kucing, tapi emang nabi
sayang semua binatang dan mereka
semua diperlakukan mulia. Bnyk kisah kisah
tentang kucing (karena kucing memang
binatang yang banyak berkeliaran
disekitar manusia). Bahkan nabi juga memiliki kucing peliharaan

Setiap Nabi menerima tamu di
rumah, nabi SELALU ngegendong
mueeza (nama kucingnya) dan ditaruh dipahanya. Salah satu sifat Mueeza
yang paling nabi demen:
'Mueeza selalu mengeong ketika mendengar azan, seolah-olah
ngeongnya ky ngikutin lantunan suara adzan'

Nabi berpesan untuk menyayangi
kucing peliharaan layaknya menyanyangi keluarga sendiri.

Terus, pernah juga nabi mau ngambil
jubahnya, eh ada Muezza lagi tidur
diatasnya.. Nabi pun memotong
belahan lengan yang ditiduri mueeza
dari jubahnya supaya gak ngebangunin Muezza.

Pas Nabi pulang ke rumah,
Muezza terbangun dan merunduk
kepada majikannya. Sebagai balasan, nabi menyatakan kasih sayangnya dengan mengelus lembut ke badan kucing itu.

Nabi menekankan di beberapa hadis
bahwa kucing itu tidak najis. Bahkan
diperbolehkan untuk berwudhu
menggunakan air bekas minum kucing
karena dianggap suci. Kenapa Rasulullah Saw yang buta baca-tulis, berani mengatakan bahwa kucing suci, tidak najis?
Lalu, bagaimana Nabi mengetahui
kalau pada badan kucing tidak
terdapat najis?
Pada kulit kucing terdapat otot yang berfungsi untuk menolak telur bakteri.
Otot kucing itu juga dapat menyesuaikan dengan sentuhan otot
manusia.

Permukaan lidah kucing tertutupi oleh berbagai benjolan kecil yang runcing, benjolan ini bengkok mengerucut seperti kikir atau gergaji. Bentuk ini
sangat berguna untuk membersihkan
kulit. Ketika kucing minum, tidak ada setetes pun cairan yang jatuh dari
lidahnya.

Sedangkan lidah kucing sendiri
merupakan alat pembersih yang paling canggih, permukaannya yang kasar bisa membuang bulu-bulu mati dan membersihkan bulu-bulu yang tersisa di badannya.

Telah dilakukan berbagai penelitian
terhadap kucing dan berbagai
perbedaan usia, perbedaan posisi kulit, punggung, bagian dalam telapak kaki, pelindung mulut, dan ekor. Pada bagian- bagian tersebut dilakukan pengambilan sample dengan usapan. Di samping itu, dilakukan juga penanaman
kuman pada bagian-bagian khusus.
Terus diambil juga cairan khusus yang ada pada dinding dalam mulut dan lidahnya.

Hasil yang didapatkan adalah:
1. Hasil yang diambil dari kulit luar
tenyata negatif berkuman, meskipun
dilakukan berulang- ulang.
2. Perbandingan yang ditanamkan
kuman memberikan hasil negatif sekitar 80% jika dilihat dari cairan yang diambil dari dinding mulut.
3. Cairan yang diambil dari permukaan
lidah juga memberikan hasil negatif
berkuman.
4. Sekalinya ada kuman yang ditemukan saat proses penelitian,
kuman itu masuk kelompok kuman yang dianggap sebagai kuman biasa yang berkembang pada tubuh manusia dalam jumlah yang terbatas seperti, enterobacter, streptococcus, dan taphylococcus. Jumlahnya kurang dan 50 ribu pertumbuhan.
5. Tidak ditemukan kelompok kuman
yang beragam.

Berbagai sumber yang dapat
dipercaya dan hasil penelitian
laboratorium menyimpulkan bahwa
kucing tidak memiliki kuman dan
mikroba. Liurnya bersih dan
membersihkan.

Komentar Para Dokter yang
Bergelut dalam Bidang Kuman
Menurut Dr. George Maqshud,
ketua laboratorium di Rumah Sakit Hewan Baitharah, jarang sekali ditemukan adanya kuman pada lidah kucing. Jika kuman itu ada, maka kucing itu akan sakit.

Dr. Gen Gustafsirl menemukan
bahwa kuman yang paling banyak
terdapat pada anjing, manusia 1/4
anjing, kucing 1/2 manusia. Dokter
hewan di rumah sakit hewan
Damaskus, Sa'id Rafah menegaskan bahwa kucing memiliki
perangkat pembersih yang bemama
lysozyme.

Kucing tidak suka air karena air
merupakan tempat yang sangat subur untuk pertumbuhan bakteri, terlebih pada genangan air (lumpur, genangan hujan, dll). Kucing juga sangat menjaga kestabilan kehangatan tubuhnya. Ia tdk banyak berjemur dan tidak dekat2 dgn air. Tujuannya agar bakteri tidak berpindah kepadanya. Inilah yang menjadi faktor tidak adanya kuman pada tubuh kucing.

Dan hasil penelitian kedokteran dan
percobaan yang telah di lakukan di
laboratorium hewan, ditemukan bahwa badan kucing bersih secara
keseluruhan. Ia lebih bersih dari
manusia.

Sisa makanan kucing hukumnya suci.
Hadis Kabsyah binti Ka'b bin Malik
menceritakan bahwa Abu Qatadah,
mertua Kabsyah, masuk ke
rumahnya lalu ia menuangkan air untuk wudhu. Pada saat itu, datang seekor kucing yang ingin minum. Lantas ia menuangkan air di bejana sampai kucing itu minum. Kabsyah berkata, "Perhatikanlah." Abu Qatadah berkata, "Apakah kamu heran?" Ia menjawab, "Ya." Lalu, Abu Qatadah berkata bahwa Nabi
SAW prnh bersabda, "Kucing itu
tidak najis. Ia binatang yang suka
berkeliling di rumah (binatang
rumahan),"
(HR At-Tirmidzi, An-Nasa'i, Abu Dawud, dan Ibnu Majah).

Diriwayatkan dan Ali bin Al-
Hasan, dan Anas yang
menceritakan bahwa Nabi Saw pergi ke Bathhan suatu daerah di
Madinah. Lalu, beliau berkata, "Ya
Anas, tuangkan air wudhu untukku ke dalam bejana." Lalu, Anas menuangkan air. Ketika
sudah selesai, Nabi menuju bejana.
Namun, seekor kucing datang dan
menjilati bejana. Melihat itu, Nabi
berhenti sampai kucing tersebut berhenti minum lalu berwudhu. Nabi
ditanya mengenai kejadian tersebut,
beliau menjawab, "Ya Anas, kucing
termasuk perhiasan rumah tangga, ia tidak dikotori sesuatu, bahkan tidak ada najis."

Diriwayatkan dari Dawud bin Shalih At-Tammar dan ibunya yang menerangkan bahwa budaknya
memberikan Aisyah semangkuk
bubur. Namun, ketika ia sampai di
rumah Aisyah, tenyata Aisyah sedang shalat. Lalu, ia memberikan
isyarat untuk menaruhnya.
Sayangnya, setelah Aisyah
menyelesaikan shalat, ia lupa ada
bubur. Datanglah seekor kucing, lalu
memakan sedikit bubur tersebut.

Ketika ia melihat bubur tersebut
dimakan kucing, Aisyah lalu
membersihkan bagian yang disentuh
kucing, dan Aisyah memakannya.
Rasulullah Saw bersabda, "Ia tidak najis. Ia binatang yang berkeliling." Aisyah pernah melihat Rasulullah Saw berwudhu dari sisa jilatan kucing, (HR AlBaihaqi, Abd Al- Razzaq, dan Al-Daruquthni).

Hadis ini diriwayatkari Malik,
Ahmad, dan imam hadis yang lain.
Oleh karena itu, kucing adalah
binatang, yang badan, keringat,
bekas dari sisa makanannya suci.

Rahasia Di Balik Nama Muhamad SAW

Rahasia dibalik nama Muhammad, dimana banyak makna yang tersirat dalam
kebesaran nama yang sederhana
itu. entah apakah ini merupakan
salah satu mukjizat atau sekedar
kebetulan saja, bahwa ada fakta
menarik di abjad/huruf-huruf yang tersusun dari nama itu:

1. Kata Muhammad , jika kita gabungkan dalam bentuk normal
mim ha mim dal, maka akan
menjadi sebuah sekesta seorang
manusia. sudah maklum adanya
bahwa sebaik-baik mahluk /
ciptaan yang pernah diciptakan oleh Tuhan di alam semesta ini adalah manusia dengan kelebihan aqal
mereka, sementara mahluk lain
hanyalah hayawan dan planet-
planet yang penuh rahasia.

Manusia Sempurna:
2. kata Ahmad , jika kita cermati satu-persatu hurufnya mak huruf-
huruf itu akan mennggambarkan
sosok orang yang sedang melakukan
sholat, tahukah kita bahwa sholat
merupakan sebaik-baik doa dan
ibadah yang pernah diperintahkanNya.

Ahmad Terpisah:
3. Kata Muhammadjika digabungkan huruf-hurufnya maka
akan berbentuk layaknya manusia
yang sedang sujud dalam shalat.
dalam ritual sholat Sujud
merupakan inti dari semua rukun-
rukunnya, karena pada saat sujud manusia menundukkan 8 bagian
tubuhnya di bumi bukti kepasrahan
total kepada sang pencipta. hmmm
betapa rahasia Tuhan sangat
menggetarkan hati, saya yakin
masih banyak tersirat rahasia- rahaisa lain dibalik sosok, nama
dan semua yang berkaitan dengan
sang kekasih sejati 'Habibullah: Muhammad '.
Sumber

Alam Semesta Berbentuk Seperti Terompet Sangkakala Malaikat Isrofil

"Sebelum kiamat datang, apa yang sekarang di lakukan oleh malaikat
Isrofil ?" Jawabnya, "Sedang membersihkan terompetnya. " Mungkin yang ada di benak kita
malaikat Isrofil itu seperti sesosok
seniman yang asyik mengelap
terompet kecilnya sebelum tampil
diatas panggung.Sebenarnya seperti apa sih
terompetnya — atau yang biasa juga dikenal dengan sangkakala – malaikat Isrofil itu? Sekitar enam tahun silam
sekelompok ilmuwan yang dipimpin oleh
Prof. Frank Steiner dari
Universitas Ulm, Jerman melakukan
observasi terhadap alam semesta
untuk menemukan bentuk sebenarnya dari alam semesta raya ini sebab
prediksi yang umum selama ini
mengatakan bahwa alam semesta
berbentuk bulat bundar atau prediksi
lain menyebutkan bentuknya datar
saja. Menggunakan sebuah peralatan canggih milik NASA
yang bernama "Wilkinson Microwave Anisotropy
Prob " (WMAP), mereka mendapatkan sebuah kesimpulan yang
sangat mencengangkan karena
menurut hasil penelitian tersebut alam
semesta ini ternyata berbentuk
seperti terompet. Di mana pada
bagian ujung belakang terompet (baca alam semesta) merupakan alam
semesta yang tidak bisa diamati
(unobservable), sedang bagian depan,
di mana bumi dan seluruh sistem tata
surya berada merupakan alam
semesta yang masih mungkin untuk diamati (observable)
Di dalam kitab Tanbihul Ghofilin Jilid
1 hal. 60 ada sebuah hadits panjang
yang menceritakan tentang kejadian
kiamat yang pada bagian awalnya
sangat menarik untuk dicermati.
Abu Hurairah ra berkata :
Rasulullah saw bersabda :
"Ketika Allah telah selesai menjadikan langit dan bumi, Allah
menjadikan sangkakala (terompet)
dan diserahkan kepada malaikat
Isrofil, kemudian ia letakkan
dimulutnya sambil melihat ke Arsy
menantikan bilakah ia diperintah. Saya bertanya : "Ya Rasulullah apakah sangkakala itu ?" Jawab Rasulullah : "Bagaikan tanduk dari cahaya. " Saya tanya : "Bagaimana besarnya ?" Jawab Rasulullah : "Sangat besar bulatannya, demi Allah yang mengutusku sebagai
Nabi, besar bulatannya itu seluas
langit dan bumi, dan akan ditiup hingga
tiga kali. Pertama : Nafkhatul
faza' (untuk menakutkan). Kedua : Nafkhatus sa 'aq (untuk mematikan). Ketiga: Nafkhatul ba 'ats (untuk menghidupkan kembali atau
membangkitkan). "
Jika keshohihan hadits di atas bisa
dibuktikan dan data yang diperoleh
lewat WMAP akurat dan bisa
dipertanggungjawabkan maka bisa
dipastikan bahwa kita ini bak rama – rama yang hidup di tengah – tengah kaldera gunung berapi paling aktif
yang siap meletus kapan saja. Dan
Allah telah mengabarkan
kedahsyatan terompet malaikat
Isrofil itu dalam surah An Naml
ayat 87 :
"Dan pada hari ketika terompet di tiup, maka terkejutlah semua yang di
langit dan semua yang di bumi kecuali
mereka yang di kehendaki Allah.
Dan mereka semua datang
menghadapNya dengan
merendahkan diri. "
Makhluk langit saja bisa terkejut
apalagi makhluk bumi yang notabene
jauh lebih lemah dan lebih kecil. Pada
sambungan hadits di atas ada sedikit
preview tentang seperti apa
keterkejutan dan ketakutan makhluk bumi kelak.
"Pada saat tergoncangnya bumi, manusia bagaikan orang mabuk
sehingga ibu yang mengandung gugur
kandungannya, yang menyusui lupa
pada bayinya, anak – anak jadi beruban dan setan – setan berlarian. "
Ada sebuah pertanyaan yang
menggelitik, jika terompetnya saja
sebesar itu, konon pula si peniupnya
dan konon lagi sang penciptanya?
Allahu Akbar!
Sumber

KETIKA KETAATAN BERUJUNG PADA KEMAKSIATAN

Maksiat yang membawa pelakunya pada perasaan hina dan butuh (mendekatkan diri)
pada Allah lebih baik daripada ketaatan yang menimbulkan rasa
keagungan diri dan disertai kesombongan.

(Ibn Athaillâh)
Kuncinya adalah Hati
Semestinya merupakan hal yang wajar bila seorang Muslim merasakan ketenangan saat telah menunaikan ketaatan dan merasakan ketakutan setelah melakukan kemaksiatan. Dalam ranah dhahir, secara kasat mata, ketaatan adalah mutlak sebuah kabaikan. Sementara kemaksiatan –sekecil apapun bentuknya- tetaplah kesalahan. Namun, struktur bangunan amal seseorang tidaklah terjadi berkat kontribusi aktivitas jasmani saja. Amal tidaklah terwujud tanpa ada campur tangan rohani yang biasa dikenal dan diwakili oleh hati. Dalam hadits Nabi unsur terakhir justru disebut sebagai tolak ukur baik buruknya aktivitas jasmani seseorang. “Ingatlah bahwa dalam jasad itu ada sekerat daging, jika ia baik, baiklah jasad seluruhnya, dan jika ia rusak, maka rusaklah jasadnya seluruhnya. Ingatlah, ia adalah hati (al-qalbu)“. (HR. Bukhari dan Muslim).
Dua orang Muslim yang melakukan shalat empat rakaat sama persis bisa memiliki nilai yang berbeda, bila orang yang pertama meniatkannya untuk shalat sunat, sementara orang yang lain berniat shalat zhuhur. Pembedanya terletak dalam niat. Atau sama-sama melakukan shalat shubuh, tapi yang pertama melakukannya ikhlas karena Allah, sementara yang lain karena riya’ di hadapan manusia. Sudah tentu yang pertama menuju “surga” karena keikhlasan hatinya, sementara yang kedua menuju “neraka” karena penyakit hati yang menghinggapinya.
Ibnu Athaillâh dalam kitab al-Hikam, untuk menunjukkan pentingnya kebersihan hati, bahkan memilih jalan kemaksiatan daripada ketaatan, saat kemaksiatan mampu berujung pada kehinaan diri dan perasaan butuh pada Allah, sementara ketaatan hanya melahirkan kesombongan dan perasaan ujub. Sifat ujub adalah jurang luas dan dalam yang mampu memisahkan hamba dari Allah. Sedangkan perasaan hina dan butuh pada rahmat ampunan Allah adalah magnet yang dapat mendekatkan hamba dengan Allah. Oleh karenanya, bagi Ibnu Athaillâh tidak ada kemaksiatan yang besar bila mampu mendekatkan diri kita kepada Allah, dan tidak ada ibadah yang paling merugi bila ujungnya hanya bertemu dengan murka Allah. Kuncinya ada pada ke mana hati kita menuntun dan membawa perbuatan yang jasmani kita lakukan. Sekali lagi pembedanya hanya satu, hati.
Senada dengan keterangan di atas, Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’ juga memberikan paparan tentang tingkatan kesucian diri (thaharah) dari tingkatan yang paling rendah ke tingkatan yang lebih tinggi, Pertama, thaharat al-abdan ‘anil hawadits (kesucian badan dari hadas). Kedua, thaharat al-ajsam ‘anil atsam (kesucian jisim dari perbuatan dosa). Ketiga, thaharat al-qalbi ‘anil akhlaq al-madzmumah (kesucian hati dari akhlak yang tercela). Keempat, thaharat al-sirri ‘amma siwallah (kesucian inti hati dari selain Allah). Tampak Ghazali memberikan porsi yang besar terhadap peran hati dalam tingkatan kesucian diri. Bersih kotornya hati menentukan tinggi rendahnya derajat seseorang di mata Allah. Karena sejatinya, tampilan luar memang tidaklah menunjukkan nilai yang sebenarnya.
Mungkin sulit menjaga lisan untuk tidak mengumpat, mencibir, atau melakukan ghibah pada orang lain. Mungkin tidak mudah menahan menjaga lidah untuk tidak membuka aib orang, tapi sejatinya jauh lebih sulit dan jauh lebih tidak mudah untuk menjaga hati untuk tidak berdetak melakukan umpatan, cibiran, ghibah, atau mengingat-ingat aib orang lain. Menjaga badan untuk melakukan ibadah atau untuk meninggalkan kemaksiatan cukup dan selesai pada waktu-waktu tertentu. Kewajiban sholat dianggap selesai setelah ritualnya telah dilaksanakan, namun menjaga hati untuk memastikan sholat tersebut diperuntukkan dengan ikhlas kepada Allah melampaui batas-batas waktu ritual sholat. Hati harus tetap dipastikan ikhlas pada saat shalat, setelah shalat, bahkan sepanjang hati tersebut berdetak.
(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih“. (Q.S. al-Syura [26]: 88-99).
Penyakit Amal
Memang lebih mudah menghindari kemaksiatan yang secara kasat mata tampak dan bersemayam dalam kemaksiatan. Perbuatan zina atau meminum minuman keras sebagian besar Muslim pasti tidak terlalu sulit menghindarinya. Tapi, bagaimana bila kemaksiatan itu bersemayam dalam bentuk ketaatan? Dampaknya memang akan banyak ahli ibadah yang justru tidak secara sadar melakukan dosa besar bersamaan dengan besarnya ibadah yang mereka lakukan. Alasannya adalah karena amal-amal ibadah tersebut berpenyakit. Penyakit-penyakit inilah yang justru menjadikan ibadahnya tidak bernilai di depan Allah, bahkan justru mengundang murka-Nya.
Di antara penyakit-penyakit tersebut pertama adalah penyakit ujub, bangga akan diri sendiri yang telah berhasil melakukan ibadah. Sifat ini seringkali tanpa kita sadari terlintas dalam hati kita setelah kita melakukan ibadah. Ada rasa puas, bahagia, dan bangga atas kemampuan melaksanakan sejumlah ritual ibadah. Tampak sangat sepele, namun ujub adalah sifat yang memisahkan sangat jauh jarak antara hamba dengan Tuhannya. Sifat ini mengindikasikan tiadanya keikhlasan dan keyakinan bahwa seluruh perbuatan bersumber dari Allah dan sudah seharusnya diperuntukkan murni bagi-Nya.
Logikanya, bagaimana mungkin ritual ibadah tersebut bisa kita lakukan kalau nikmat kesehatan tidak Allah berikan, kalau tidak Allah membiarkan badan kita bergerak, dan hati kita berdetak untuk beribadah kepada-Nya? Lalu atas dasar apa kita layak ujub, bangga akan peribadatan yang kita lakukan, sementara kita tidak punya peran apa-apa di dalamnya?
Penyakit amal yang kedua adalah keyakinan bahwa kita mampu selamat dan berhasil mencapai tujuan disebabkan amal ibadah yang kita lakukan (i’timad ‘alal ‘amal). Padahal keberhasilan seseorang dalam mencapai tujuan bukanlah berkat ibadah yang telah ia dirikan, bukan karena doa-doa yang tak henti-hentinya ia panjatkan. Semuanya hanyalah berkat rahmat Allah, kasih sayang-Nya kepada umat manusia. Doa kita tidak lain dan tidak bukan hanyalah ditujukan untuk membuktikan kehambaan kita kepada-Nya. Kalau tidak karena rahmat-Nya, maka tingginya pahala dari semua ibadah tidak akan berarti apa-apa.
Penyakit ketiga adalah menghina orang yang tidak melakukan ibadah sebagaimana ibadah yang kita lakukan. Seringkali kita merasa lebih baik, lebih suci, dan lebih bersih, selepas mendirikan shalat saat berpapasan dengan orang yang tidak shalat. Sayangnya, perasaan itu seolah merupakan kebenaran dan kewajaran yang lumrah kita rasakan. Ini bukan tentang amar makruf nahi munkar, tapi ini tentang memposisikan diri kita di hadapan orang lain. Kita sedikitpun tidak diperkenankan memiliki perasaan lebih baik daripada orang lain sehebat apapun ibadah yang kita lakukan. Demikian pula kita tidak boleh memiliki perasaan orang lain lebih hina, lebih berdosa daripada kita sebesar apapun dosa yang telah dilakukannya.
Suatu saat, ada seseorang yang tidak beriman pada Allah bertamu dan hendak menginap di rumah Nabi Musa a.s. Musa menolaknya karena berasalan ia belum beriman kepada Allah, sehingga Musa merasa orang tersebut hidup dalam dosa. Lalu Allah menurunkan wahyu seraya menegur Musa, “Bagaimana engkau (Musa) tidak memberikan tumpangan satu malam pada orang yang tidak beriman pada-Ku, sementara aku tetap memberikan rizqi sepanjang hidupnya, meski ia durhaka pada-Ku”. Musa kemudian mengejar orang tadi dan menceritakan perihal teguran dan wahyu yang Allah turunkan padanya. Orang tersebut lalu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta mati dengan membawa imannya.
Kita tidak dihalalkan menghina pelaku dosa dan kemaksiatan, karena bisa jadi mereka mati dalam keadaan husnul khatimah (happy ending), sementara besar kemungkinan kita justru bisa mati dalam keadaan su’ul khotimah (sad ending). Di samping itu, menghina pelaku dosa atau orang yang tidak melakukan ibadah kebaikan berarti menghadirkan kesombongan atas kesucian diri sendiri, padahal “tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat sebesar semut hitam dari kesombongan”. Kami berlindung pada-Mu.
Ikhtitam
Orang yang berpikiran sempit tentu berpikir tidak ada gunanya melakukan ibadah, bila seolah-olah ibadah tersebut tampak sia-sia dan bisa-bisa justru menjerumuskan ke dalam api neraka. Memang ibadah sepenuhnya menjadi preogratif Allah untuk menerima atau menolaknya. Ibadah sejatinya hanyalah tanda-tanda bahwa kita ini orang baik dan mencintai Allah, namun hakikatnya tetaplah Allah yang Maha Mengetahui dan menentukan nilai dari ibadah kita. Namun, pilihannya tetap berada pada diri kita, apakah akan menjadi orang yang setidaknya menunjukkan tanda-tanda mencintai-Nya atau akan menjadi orang yang tidak memiliki cukup bukti bahwa kita mencintai-Nya. Wallâhu a’lam bi al-shawâb.[]

Sumber 

MEMENUHI PANGGILAN ALLAH KE SURGA

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. 134. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Q.S. al‘Imrân [3]: 133-134)
Begitulah bunyi firman Allah  yang terdapat dalam surat al-‘Imrān ayat 133. Firman Allah tersebut diawali dengan fi’il amar sāri’ū yang berarti bersegeralah. Yaitu bersegeralah kamu semua menuju surga. Aneh memang kedengarannya, bagaimana mungkin Allah memerintahkan manusia untuk bergegas menuju surga? Padahal sampai sekarang ini belum ada manusia yang tahu secara persis di manakah alamat makhluk bernama surga itu. Di kota Makkah tempat orang-orang memenuhi rukun Islam itu kah? Amerika pusat peradaban dunia saat ini kah? Atau jangan-jangan  surga beralamat di Indonesia? Negara seribu satu wisata yang menjadi idaman banyak wisatawan.
Hah, terserah Allah sajalah dimana pun Ia mau meletakkannya, yang jelas tidak mungkin si surga mau berdomisili di Indonesia.  Pasalnya, di Indonesia yang tidak punya KTP ditangkepin ama aparat. Kasian nanti jadinya kalau surga harus repot-repot mengurus KTP sendiri. Kan buat KTP di Indonesia harus banyak infaqnya. “he…he…”. Jika demikian adanya, tidak ada yang mengetahui alamat surga, maka yang dimaksud oleh Allah dalam ayat tersebut adalah bergegaslah kamu sekalian menyiapkan seluruh peralatan dan perlengkapan yang diperlukan oleh orang yang hendak “mendomisilikan” dirinya di surga.
Selanjutnya penulis ingin mengatakan bahwa mempersiapkan perbekalan ke surga adalah suatu perbuatan yang wajib pelaksanaannya. Hal ini sesuai dengan kaidah yang tersirat dalam fi’il amar “sāri’ū” pada ayat terdahulu. Kaidah termaksud adalah al-ashlu fī al-amri li al-wujūb.  Pada dasarnya suatu perintah digunakan untuk mewajibkan. Dan karena mempersiapkan bekal menuju surga merupakan perintah Allah, maka wajib bagi kita semua untuk mempersiapkannya.
Lalu apakah yang harus dipersiapkan oleh orang yang ingin melaksanakan perintah Allah itu? Jawaban dari pertanyaan ini terdapat pada bagian akhir ayat tersebut. Penggalan ayat yang dimaksud adalah u’iddat li al-muttaqīn, surga yang dijanjikan bagi orang-orang yang bertaqwa. Jadi yang harus dilakukan untuk menjadi penghuni surga hanya cukup dengan menjadi orang yang bertaqwa. Terlalu simpel kata taqwa itu sepertinya, hingga membuat banyak pihak bertanya-tanya bagaimanakah cara menjadi orang yang bertaqwa? Sungguh patut kita bersyukur, karena kita memiliki Tuhan yang sungguh terlalu baik-Nya. Allah lalu memberikan kisi-kisi sekaligus tips untuk menjadi orang bertaqwa sesuai yang dimaksudkan dalam ayat tersebut.
Ciri-ciri dan Tips Menjadi Orang yang Bertaqwa
Pertama, orang-orang yang menafkahkan hartanya. Terjemahan kata الَّذِينَ يُنفِقُونَ yang terdapat pada ayat selanjutnya. Yang perlu diperhatikan adalah, saat menurunkan ayat tersebut Allah menyertakan kata فِي السَّرَّاء وَالضَّرَّاء (di saat lapang dan di saat sempit) setelah kata الَّذِينَ يُنفِقُون. Dengan demikian maka hendaknya kesediaan untuk menafkahkan harta tidak hanya pasang pada saat lapang dan surut di kala sempit, tapi selalu pasang baik lapang ataupun sempit keadaan yang dihadapi. Banyak uang atau tidak bagi orang yang bertaqwa infaq adalah suatu hal yang akan dilakukannya.
Lantas bagaimanakah cara berinfaq yang bisa diikuti oleh semua kalangan? Jawaban atas pertanyaan ini adalah sebagaimana yang pernah di lakukan oleh para sahabat ketika hendak menghadapi perang tabuk bersama Rasulullah s.a.w. Bagi orang yang memang ikhlas dan mampu untuk menafkahkan semua hartanya maka ikutilah jejak sahabat Abu Bakar r.a. yang menafkahkan seluruh hartanya. Bagi orang yang memang tidak mampu  untuk menafkahkan semua hartanya, cukuplah baginya untuk menafkahkan sebagian dari hartanya seperti yang dilakukan olah sahabat ‘Utsman r.a. Dan bagi siapapun yang memang tidak memiliki kemampuan untuk berinfaq dikarenakan keterbatasan ekonomi, maka dia bisa menafkahkan jiwa dan raganya untuk kepentingan agama Allah S.W.T. Hal ini sebgaimana yang di contohkan oleh sahabat Ali bin Aby Thalib k.w. yang tidak memiliki harta sepeserpun untuk dinfaqkan.
Demikian tips pertama yang bisa dilakukan jikalau kita memang ingin menjadi orang yang bertaqwa. Yaitu membiasakan diri untuk menafkahkan harta yang dimiliki. Baik sebagian dari harta ataupun semuanya. Baik di kala lapang ataupun sempit.
Kedua, orang yang menahan amarah. Tips kedua untuk menjadi orang yang bertaqwa adalah menahan amarah. Cara kedua ini merupakan terjemahan dari kata الْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ yang diartikan dengan orang-orang yang menahan amarah. Yang perlu diperhatikan dalam tips kedua ini adalah proses menahan amarah bukanlah suatu perbuatan tanpa objek, tapi suatu upaya yang melibatkan hal-hal yang membuat subyek harus mampu bersabar menahan amarah. Hal ini dapat di ketahui dari digunakannya kata kādzimīn oleh Allah.
Kata kādzimīn yang biasa diartikan dengan orang-orang yang menahan adalah bentuk fa’il dari kata kerja atau fi’il mādhi yang muta’adi. Yaitu kata kerja yang tidak bisa berdiri sempurna kecuali dengan adanya obyek yang menyertainya. Dengan demikian maka proses menahan amarah yang dimaksud dalam ayat tersebut bukanlah menahan amarah pada saat yang netral saja tapi menahan amarah pada saat ada sesuatu hal yang memang membuat seseorang benar-benar merasa ingin marah. Harus ada konflik yang menguji kesabarannya dulu baru dia bisa menjadi golongan kādzimīn.
Sangat wajar jikalau orang bisa mengatur stabilizer amarahnya pada saat tidak ada masalah yang dihadapi, karena yang berat adalah  menjaganya di saat ada suatu cobaan yang berat. Inilah yang kemudian menjadi nilai plus bagi orang-orang yang mampu menstabilkan amarahnya disetiap keadaan. Mau dikatakan berat memang berat rasanya, tapi hal ini menjadi tantangan yang harus ditakklukkan oleh orang yang memang ingin menjadi orang yang bertaqwa dan tentunya masuk surga. Ia harus mampu bersabar dalam keadaan-keadaan yang sepatutnya ia emosi atau marah sehingga Allah menaikkan derajatnya menjadi orang yang bertaqwa, karena seorang yang memang bertaqwa kepada Allah akan sanggup menahan amarahnya di setiap keadaan yang ia hadapi.
Ketiga, memaafkan orang lain. Memaafkan orang lain adalah terjemahan dari الْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ. Kata ini (maaf) adalah kata yang sangat ringan pengucapannya, namun ia seringkali terasa berat untuk diberikan kepada orang yang memintanya. Dalam kehidupan sehari-hari begitu banyak perkataan yang disampaikan ke orang lain dan begitu banyak perbuatan yang tujukan ke orang lain. Di antara puluhan hingga ratusan kata dan perbuatan itu, sangat mungkin sebagian di antaranya menyebabkan orang lain marah. Apa yang  dilakukan bila kita bersalah pada orang lain?
Dalam al-Qur’ân, sebagaimana diungkapkan ahli tafsir terkemuka di Indonesia, Prof. Dr. Quraish Shihab, tidak ditemukan perintah untuk meminta maaf. Namun, dalam al-Hadits ditemukan perintah untuk menghalalkan dosa-dosa yang dilakukannya terhadap orang lain, yang berarti dia diminta untuk meminta maaf atau dimaafkan. Hal ini sebagaimana diungkapkan sebuah hadits Nabi saw.
Abu Hurairah berkata, telah bersabda Rasulullah saw, “Barangsiapa pernah melakukan kedzaliman terhadap saudaranya, baik menyangkut kehormatannya atau sesuatu yang lain, maka hendaklah ia minta dihalalkan darinya hari ini, sebelum dinar dan dirham tidak berguna lagi (hari kiamat). (Kelak) jika dia memiliki amal shaleh, akan diambil darinya seukuran kedzalimannya. Dan jika dia tidak mempunyai kebaikan (lagi), akan diambil dari keburukan saudara (yang dizalimi) kemudian dibenamkan kepadanya. (HR al-Bukhari).
Oleh karenannya kata maaf ini memiliki nilai yang sangat besar di sisi Allah S.W.T. Bagaimana tidak, ketika seseorang disakiti, dan dizhalimi oleh orang lain, dia tidak mendoakan yang buruk ataupun membalas dendam, tapi justru memberikan maaf kepada orang yang bersalah tersebut. Padahal, apabila orang yang dizhalimi tersebut mau berdoa kepada Allah untuk keburukan si zhālim maka doanya tidaklah terhalang. Oleh sebab itulah Allah memberikan derajat taqwa bagi orang-orang yang mau memafkan orang yang bersalah kepadanya. Dan Allah akan memberikan “door prize” kepadanya, yaitu surga rumah kebahagiaan.
Penutup
Terakhir penulis mengajak seluruh pembaca untuk bersama-sama memenuhi panggilan Allah ke surga dengan bersama-sama berusaha menjadi orang yang bertaqwa. Tentu dengan meningkatkan hobi dalam berinfaq, menahan amarah, dan memberi maaf kepada orang lain. Ja’alanā Allāhu wa iyyākum min al-fāizīn al-āminīn. wa Allâhu a’lam bi al-Shawwāb.

Sumber 

ISLAM DAMAI, ISLAM INDONESIA

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (Q.S. al-Anbiyâ’ [21]:107)
“Islam adalah rahmat bagi setiap manusia, namun orang yang beriman menerima rahmat ini dan mendapatkan manfaat di dunia dan di akhirat. Sedangkan orang kafir menolaknya”. [Ibnul Qayyim]
Beberapa waktu terakhir, sebagai orang Islam, kita dikejutkan oleh konflik kekerasan yang melibatkan pelbagai aliran dalam Islam. Adanya konflik antar keyakinan yang semakin ramai di negeri ini tersebut, meniscayakan upaya untuk melakukan penyadaran kembali secara kolektif atas spirit ajaran yang dipegang teguh oleh Islam, yakni sebuah agama yang didasarkan pada asas perdamaian dan rahmatan lil’âlamîn.
Sejarah perjuangan penyebaran Islam oleh para auliya’ Allah, walisongo, misalnya, tak setitik pun menekankan penyebaran dengan melakukan kekerasan maupun pemaksaan. Mereka, dengan akhlaknya yang mulia, membalut perjuangan penyebaran Islam dengan “hikmah”, manusiawi, dan beradab.
Metode dakwah tersebut tentunya bukan merupakan isapan jempol belaka. Faktanya, sampai saat ini, kita masih merasakan betapa perjuangan dengan cara demikian, sangatlah tepat dan mengena bagi kondisi kultural masyarakat Indonesia. Berkaca dari sejarah tersebut, sungguh amatlah merisaukan apabila wajah Islam Indonesia kini identik dengan kekerasan, premanisme, dan tidak berperadaban.

Krisis Inspirasi
Dr. Hamim Ilyas, dalam sebuah kesempatan, pernah menyatakan bahwa salah satu penyebab kemunduran Islam adalah minusnya inspirasi yang datang dari Islam sendiri. Bahwa saat ini, umat Islam seolah telah kehilangan tauladan-tauladan terbaiknya, sehingga dalam rangka menerjemahkan teks suci ke dalam hal yang praktis, tampak sangatlah serampangan dan tidak berpedoaman pada akhlak yang baik.
Pertanyaan mendasarnya: apa buah daripada iman? Apakah sebuah pemaksaan keimanan atas yang lain melalui cara semena-mena? Tentu jawabannya: bukan. Bahwa buah daripada iman, dalam perspektif Ilyas, adalah perbuatan baik, akhlak yang baik kepada semua umat, baik muslim maupun non-muslim.
Ketika umat Islam sudah dapat mengimplementasikan pemahaman atas iman yang bersifat batiniah ke dalam akhlak yang baik yang bersifat lahiriah tersebut, maka tepat di titik inilah, menurut Ilyas, iman seseorang dapat dikatakan “kaffah”. Sebagai orang yang berkeyakinan Islam, dirinya tidak lagi mengalami keterbelahan antara yang batiniah dan lahiriah. Akan tetapi, keduanya, secara simultan saling berkaitan, bertalian, dan menguatkan.
Tafsir atas konsep iman yang membumi seperti itulah yang, barangkali, kini secara kontekstual akan mudah dipahami. Bahwa “Islam”, dari suku kata “salama”, yang berarti “damai”, dalam wilayah praktisnya, sangat menekankan implementasi keyakinan yang “damai”, “baik”, “sejuk”, dan “melindungi” semua umat. Artinya, konteks “iman” dalam ajaran Islam, bukan sekadar sebagai sebuah utopis ajaran. Akan tetapi, tetap memiliki persambungan yang secara terus-menerus dikontekstualisasikan ke ranah yang lebih praktis. Tepat di titik inilah, penulis kira, Islam yang di bawa oleh Rasulullah s.a.w adalah ajaran yang rahmatan lil’âlamîn, ajaran yang sifatnya universal untuk semua bangsa dan makhluk bumi. Inilah yang menginspirasi seluruh ummat, dari sinilah Islam akan datang dengan wajahnya yang menentramkan dan mendamaikan.

Historis dan Normatif
Memang, pada praktiknya, pemahaman atas Islam kadangkala terbelah dari dua sudut pandang yang berbeda. Sebut saja, “Islam historis” dan “Islam normatif”. Kedua sudut pandangan ini kerapkali dipahami sebagai saling berbenturan, kendatipun jika dipahami lebih mendalam, sebetulnya tidak perlu berlaku demikian.
Islam historis, dalam tafsirnya yang longgar, mengandung arti: suatu pemahaman atas ajaran Islam berdasarkan atas riwayat sejarah perjalanan Islam. Bentuk konkretnya, misalnya, adalah munculnya fenomena sekumpulan orang Islam yang begitu ngotot memperjuangkan khilafah Islam. Dalam pandangan mereka, Islam yang kaffah ialah apabila sudah berhasil menjadi “penguasa” dalam sistem khilafah, yang mendasarkan prinsip-prinsip hukumnya dari ajaran “ansich” al-Qur’an dan al-Hadits.
Mereka menolak secara mutlak sistem negara demokrasi, atau sistem apapun di luar sistim khilafah, sebab dalam pandangan mereka, sistem-sistem di luar khilafah, secara historis, tidak pernah ditemukan di masa Nabi Muhammad s.a.w. Karena itulah, negara khilafah, bagi mereka, adalah sistem yang final, tak dapat diganggu gugat, dan harus diperjuangkan, dengan cara apapun.
Pemahaman yang kedua adalah Islam normatif. Pada konteks ini, Islam dipahami sebagai sebuah sistem nilai. Implementasinya secara tekstual tidak harus sama persis dengan Islam, asal spirit dan nilai-nilai yang diusung koheren dengan ajaran Islam, sudah dianggap cukup. Pemahaman macam ini kerap bersifat akomodatif, dan mudah untuk diajak berdialektika dengan pelbagai sistem nilai yang walaupun secara historis tidak datang dari Islam, namun secara prinsipil tidak berseberangan dengan nilai-nilai ajaran Islam.
Pada konteks Islam normatif itu pulalah gagasan-gagasan universal Islam dapat disentuhkan dengan gagasan-gagasan di luar Islam, seperti modernisme, pluralisme, sekularisme, demokrasi, bahkan sosialisme maupun kapitalisme. Entah Islam dalam posisi “berjabat tangan” atau tidak dengan paham-paham “asing” tersebut, namun Islam, seperti telah diprakarsai oleh Nurkholis Madjid dan Abdurrahman Wahid, dapat secara leluasa menafsirkan dirinya secara setara, dengan atau tanpa, tafsir atas paham-paham tersebut yang hingga kini penafsiran atas relasi-relasi tersebut belumlah tuntas pula.
Sebuah film, berjudul Tanda Tanya, baru-baru ini telah memberikan contoh bahwa Islam benar-benar mampu mewujudkan kedamaian. Islam mampu merahmati siapa saja, baik Muslim maupun non Muslim seperti yang dibawakan Rasulullah s.a.w. saat mengajarkan agama Allah. Islam yang menerangi dan menyelamatkan, bukan yang menjerumuskan. Bukan memaksakan umat manusia untuk masuk pada agama tertentu, tapi hanya mengabarkan berita baik. Berita gembira. Selebihnya adalah urusan tiap individu. “Islam artinya adalah penyerahan hati dan jiwa. Pada saat diserahkan kepada Allah S.W.T., yang ada adalah keikhlasan. Maka, menjadi Islam adalah menjadi manusia yang terus menerus berupaya untuk ikhlas memperbaiki kekurangan dalam dirinya dan mengubah kekurangan itu menjadi sesuatu yang bermanfaat untuk orang yang ada di sekelilingnya.”(Salah satu kutipan dalam Film)
Nah, konflik yang muncul di Indonesia, dalam hemat penulis, setidaknya dapat ditelisik dari dua titik tolak pemahaman yang berbeda tersebut. Mereka yang memahami Islam secara historis menganggap dirinya paling benar karena memperjuangkan Islam seperti yang Rasulullah s.a.w. perjuangkan. Sementara Islam normatif menganggap Islam historis tidaklah lebih diunggulkan apabila dalam praktiknya tetap berada di menara gading teks suci, tak terbahasakan, tak kontekstual, dan tidak membumi dengan jaman sekarang.
Adanya dua perbedaan metodis dalam memahami Islam itulah yang implikasinya, jika tidak dituntaskan, akan menjadi bomerang bagi perjalanan Islam di Indonesia. Maka, sejak saat ini haruslah digerakkan sebuah pemahaman yang tepat bahwa, betapapun tampak saling bersebarangan, sesungguhnya antara Islam normatif dan Islam historis tidaklah perlu saling dipertentangkan. Justru, dua metode pemahaman atas Islam ini, semestinya dipakai secara simultan, berbarengan, agar pemahaman atas Islam yang komprehensif, matang, dan mendewasakan, lahir di antara kita sekalian.
Menuju Islam Indonesia yang Damai
Setelah memahami faktor-faktor penyebab lahirnya konflik Islam di atas, kini saatnya kita kembali merajut kebersamaan untuk melahirkan Islam yang damai. Tafsir Islam yang damai, dalam hemat penulis,  adalah tafsir Islam yang paling bermutu. Sebab ia tidak terjebak pada ekstremitas dan mistifikasi atas ajaran Islam, baik secara historis maupun normatif.
Islam damai adalah Islam yang menjaga harkat dan martabat, bukan saja sebagai “manusia yang beragama Islam”, akan tetapi sebagai “manusia” itu sendiri. Di titik inilah Islam akan menjelma sebagai sebuah keyakinan yang senantiasa menitikberatkan pada penghargaan dan penghormatan terhadap setiap “manusia”, betapapun berbeda latar belakang keyakinan dan pemahamannya.
Alangkah indahnya apabila spirit yang diusung oleh para pejuang Islam terdahulu, seperti walisongo dan ulama’-ulama’ inspiratif lainnya, kembali kita hadirkan di bumi Indonesia. Realitas zaman sekarang memang sangatlah berbeda dengan realitas zaman mereka. Namun, nilai-nilai yang terpatri pada zaman mereka, penulis kira, masih sangatlah relevan untuk tetap digunakan pada zaman sekarang.
Membangun kehidupan “rumah tangga” Indonesia yang Islam damai merupakan sebuah upaya yang sangat penting. Untuk mewujudkan kehidupan “rumah tangga” yang Islam damai ini, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah saling menghormati. Apapun itu perbedaannya. Saling menutupi kekurangan, bukan malah saling mencela, apalagi sampai menyalahkan. Inilah kemudian yang disebut sebagai upaya dialektis pemahaman antara yang historis dan yang normatif. Sebuah upaya dialektis menuju masyarakat Islam yang damai dan menginspirasi kebajikan bagi seluruh umat manusia. Demikian, semoga.

Sumber

Tentang ISLAM

Islam (Arab: al-islām, الإسلام Tentang suara ini dengarkan : "berserah diri kepada Tuhan") adalah agama yang mengimani satu Tuhan, yaitu Allah. Dengan lebih dari satu seperempat miliar orang pengikut di seluruh dunia,[1][2] menjadikan Islam sebagai agama terbesar kedua di dunia setelah agama Kristen.[3] Islam memiliki arti "penyerahan", atau penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan (Arab: الله, Allāh).[4] Pengikut ajaran Islam dikenal dengan sebutan Muslim yang berarti "seorang yang tunduk kepada Tuhan"[5][6], atau lebih lengkapnya adalah Muslimin bagi laki-laki dan Muslimat bagi perempuan. Islam mengajarkan bahwa Allah menurunkan firman-Nya kepada manusia melalui para nabi dan rasul utusan-Nya, dan meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa Muhammad adalah nabi dan rasul terakhir yang diutus ke dunia oleh Allah.

Aspek kebahasaan

Kata Islam merupakan penyataan kata nama yang berasal dari akar triliteral s-l-m, dan didapat dari tatabahasa bahasa Arab Aslama, yaitu bermaksud "untuk menerima, menyerah atau tunduk." Dengan demikian, Islam berarti penerimaan dari dan penundukan kepada Tuhan, dan penganutnya harus menunjukkan ini dengan menyembah-Nya, menuruti perintah-Nya, dan menghindari politheisme. Perkataan ini memberikan beberapa maksud dari al-Qur’an. Dalam beberapa ayat, kualitas Islam sebagai kepercayaan ditegaskan: "Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam..."[7] Ayat lain menghubungkan Islām dan dīn (lazimnya diterjemahkan sebagai "agama"): "...Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu."[8] Namun masih ada yang lain yang menggambarkan Islam itu sebagai perbuatan kembali kepada Tuhan-lebih dari hanya penyataan pengesahan keimanan.[9]
Secara etimologis kata Islam diturunkan dari akar kata yang sama dengan kata salām yang berarti “damai”. Kata 'Muslim' (sebutan bagi pemeluk agama Islam) juga berhubungan dengan kata Islām, kata tersebut berarti “orang yang berserah diri kepada Allah" dalam bahasa Indonesia.

Kepercayaan

Kepercayaan dasar Islam dapat ditemukan pada dua kalimah shahādatāin ("dua kalimat persaksian"), yaitu "asyhadu an-laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna muhammadan rasuulullaah" - yang berarti "Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad saw adalah utusan Allah". Adapun bila seseorang meyakini dan kemudian mengucapkan dua kalimat persaksian ini, berarti ia sudah dapat dianggap sebagai seorang Muslim atau mualaf (orang yang baru masuk Islam dari kepercayaan lamanya).
Kaum Muslim percaya bahwa Allah mewahyukan al-Qur'an kepada Muhammad sebagai Khataman Nabiyyin (Penutup Para Nabi) dan menganggap bahwa al-Qur'an dan Sunnah (setiap perkataan dan perbuatan Muhammad) sebagai sumber fundamental Islam.[10] Mereka tidak menganggap Muhammad sebagai pengasas agama baru, melainkan sebagai pembaharu dari keimanan monoteistik dari Ibrahim, Musa, Isa, dan nabi lainnya (untuk lebih lanjutnya, silakan baca artikel mengenai Para nabi dan rasul dalam Islam). Tradisi Islam menegaskan bahwa agama Yahudi dan Kristen telah membelokkan wahyu yang Tuhan berikan kepada nabi-nabi ini dengan mengubah teks atau memperkenalkan intepretasi palsu, ataupun kedua-duanya.[11]
Umat Islam juga meyakini al-Qur'an sebagai kitab suci dan pedoman hidup mereka yang disampaikan oleh Allah kepada Muhammad. melalui perantara Malaikat Jibril yang sempurna dan tidak ada keraguan di dalamnya (Al-Baqarah [2]:2). Allah juga telah berjanji akan menjaga keotentikan al-Qur'an hingga akhir zaman dalam suatu ayat.
Adapun sebagaimana dinyatakan dalam al-Qur'an, umat Islam juga diwajibkan untuk mengimani kitab suci dan firman-Nya yang diturunkan sebelum al-Qur'an (Zabur, Taurat, Injil dan suhuf para nabi-nabi yang lain) melalui nabi dan rasul terdahulu adalah benar adanya.[12] Umat Islam juga percaya bahwa selain al-Qur'an, seluruh firman Allah terdahulu telah mengalami perubahan oleh manusia. Mengacu pada kalimat di atas, maka umat Islam meyakini bahwa al-Qur'an adalah satu-satunya kitab Allah yang benar-benar asli dan sebagai penyempurna kitab-kitab sebelumnya.
Umat Islam juga meyakini bahwa agama yang dianut oleh seluruh nabi dan rasul utusan Allah sejak masa Adam adalah agama tauhid, dengan demikian tentu saja Ibrahim juga menganut ketauhidan secara hanif (murni imannya) maka menjadikannya seorang muslim.[13][14] Pandangan ini meletakkan Islam bersama agama Yahudi dan Kristen dalam rumpun agama yang mempercayai Nabi Ibrahim as. Di dalam al-Qur'an, penganut Yahudi dan Kristen sering disebut sebagai Ahli Kitab atau Ahlul Kitab.
Hampir semua Muslim tergolong dalam salah satu dari dua mazhab terbesar, Sunni (85%) dan Syiah (15%). Perpecahan terjadi setelah abad ke-7 yang mengikut pada ketidaksetujuan atas kepemimpinan politik dan keagamaan dari komunitas Islam ketika itu. Islam adalah agama pradominan sepanjang Timur Tengah, juga di sebagian besar Afrika dan Asia. Komunitas besar juga ditemui di Cina, Semenanjung Balkan di Eropa Timur dan Rusia. Terdapat juga sebagian besar komunitas imigran Muslim di bagian lain dunia, seperti Eropa Barat. Sekitar 20% Muslim tinggal di negara-negara Arab,[15] 30% di subbenua India dan 15.6% di Indonesia, negara Muslim terbesar berdasar populasi.[16]

Lima Rukun Islam

Islam memberikan banyak amalan keagamaan. Para penganut umumnya digalakkan untuk memegang Lima Rukun Islam, yaitu lima pilar yang menyatukan Muslim sebagai sebuah komunitas.[17] Tambahan dari Lima Rukun, hukum Islam (syariah) telah membangun tradisi perintah yang telah menyentuh pada hampir semua aspek kehidupan dan kemasyarakatan. Tradisi ini meliputi segalanya dari hal praktikal seperti kehalalan, perbankan, jihad dan zakat.[18]
Isi dari kelima Rukun Islam itu adalah:
  1. Mengucap dua kalimah syahadat dan meyakini bahwa tidak ada yang berhak ditaati dan disembah dengan benar kecuali Allah saja dan meyakini bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul Allah.
  2. Mendirikan salat wajib lima kali sehari.
  3. Berpuasa pada bulan Ramadan.
  4. Membayar zakat.
  5. Menunaikan ibadah haji bagi mereka yang mampu.

Enam Rukun Iman

Muslim juga mempercayai Rukun Iman yang terdiri atas 6 perkara yaitu:
  1. Iman kepada Allah
  2. Iman kepada malaikat Allah
  3. Iman kepada Kitab Allāh (Al-Qur'an, Injil, Taurat, Zabur dan suhuf)
  4. Iman kepada nabi dan rasul Allah
  5. Iman kepada hari kiamat
  6. Iman kepada qada dan qadar

Ajaran Islam

Hampir semua Muslim tergolong dalam salah satu dari dua mazhab terbesar, Sunni (85%) dan Syiah (15%). Perpecahan terjadi setelah abad ke-7 yang mengikut pada ketidaksetujuan atas kepemimpinan politik dan keagamaan dari komunitas Islam ketika itu. Islam adalah agama pradominan sepanjang Timur Tengah, juga di sebahagian besar Afrika dan Asia. Komunitas besar juga ditemui di Cina, Semenanjung Balkan di Eropa Timur dan Rusia. Terdapat juga sebagian besar komunitas imigran Muslim di bagian lain dunia, seperti Eropa Barat. Sekitar 20% Muslim tinggal di negara-negara Arab,[19] 30% di subbenua India dan 15.6% di Indonesia, adalah negara Muslim terbesar berdasarkan populasinya.[20]
Negara dengan mayoritas pemeluk Islam Sunni adalah Indonesia, Arab Saudi, dan Pakistan sedangkan negara dengan mayoritas Islam Syi'ah adalah Iran dan Irak. Doktrin antara Sunni dan Syi'ah berbeda pada masalah imamah (kepemimpinan) dan peletakan Ahlul Bait (keluarga keturunan Muhammad). Namun secara umum, baik Sunni maupun Syi'ah percaya pada rukun Islam dan rukun iman walaupun dengan terminologi yang berbeda.

Allah

Konsep Islam teologikal fundamental ialah tauhid-kepercayaan bahwa hanya ada satu Tuhan. Istilah Arab untuk Tuhan ialah Allāh; kebanyakan ilmuwan[rujukan?] percaya kata Allah didapat dari penyingkatan dari kata al- (si) dan ʾilāh ' (dewa, bentuk maskulin), bermaksud "Tuhan" (al-ilāh '), tetapi yang lain menjejakkan asal usulnya dari Arami Alāhā.[21] Kata Allah juga adalah kata yang digunakan oleh orang Kristen (Nasrani) dan Yahudi Arab sebagai terjemahan dari ho theos dari Perjanjian Baru dan Septuaginta. Yang pertama dari Lima Rukun Islam, tauhid dituangkan dalam syahadat (pengakuan), yaitu bersaksi:
لا إله إلا الله محمد رسول الله
Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah
Konsep tauhid ini dituangkan dengan jelas dan sederhana pada Surah Al-Ikhlas yang terjemahannya adalah:
  1. Katakanlah: "Dia-lah Allah (Tuhan), Yang Maha Esa,
  2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu,
  3. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan,
  4. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia."
Nama "Allah" tidak memiliki bentuk jamak dan tidak diasosiasikan dengan jenis kelamin tertentu. Dalam Islam sebagaimana disampaikan dalam al-Qur'an dikatakan:
"(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat". (Asy-Syu'ara' [42]:11)
Allah adalah Nama Tuhan (ilah) dan satu-satunya Tuhan sebagaimana perkenalan-Nya kepada manusia melalui al-Quran :
"Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku". (Ta Ha [20]:14)
Pemakaian kata Allah secara linguistik mengindikasikan kesatuan. Umat Islam percaya bahwa Tuhan yang mereka sembah adalah sama dengan Tuhan umat Yahudi dan Nasrani, dalam hal ini adalah Tuhan Ibrahim. Namun, Islam menolak ajaran Kristen menyangkut paham Trinitas dimana hal ini dianggap Politeisme.
Mengutip al-Qur'an, An-Nisa' [4]:71:
"Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agama dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya al-Masih, Isa putra Maryam itu adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan kalimat-Nya) yang disampaikannya kepada Maryam dan (dengan tiupan ) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Dan janganlah kamu mengatakan :"Tuhan itu tiga", berhentilah dari ucapan itu. Itu lebih baik bagi kamu. Sesungguhnya Allah Tuhan yang Maha Esa. Maha suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara".
Dalam Islam, visualisasi atau penggambaran Tuhan tidak dapat dibenarkan, hal ini dilarang karena dapat berujung pada pemberhalaan dan justru penghinaan, karena Tuhan tidak serupa dengan apapun (Asy-Syu'ara' [42]:11). Sebagai gantinya, Islam menggambarkan Tuhan dalam 99 nama/gelar/julukan Tuhan (asma'ul husna) yang menggambarkan sifat ketuhanan-Nya sebagaimana terdapat pada al-Qur'an.

Al-Qur'an


Al-Fatihah merupakan surah pertama dalam Al-Qur'an
Al-Qur'an adalah kitab suci ummat Islam yang diwahyukan Allah kepada Muhammad melalui perantaraan Malaikat Jibril. Secara harfiah Qur'an berarti bacaan. Namun walau terdengar merujuk ke sebuah buku/kitab, ummat Islam merujuk Al-Qur'an sendiri lebih pada kata-kata atau kalimat di dalamnya, bukan pada bentuk fisiknya sebagai hasil cetakan.
Umat Islam percaya bahwa Al-Qur'an disampaikan kepada Muhammad melalui malaikat Jibril. Penurunannya sendiri terjadi secara bertahap antara tahun 610 hingga hingga wafatnya beliau 632 M. Walau Al-Qur'an lebih banyak ditransfer melalui hafalan, namun sebagai tambahan banyak pengikut Islam pada masa itu yang menuliskannya pada tulang, batu-batu dan dedaunan.
Umat Islam percaya bahwa Al-Qur'an yang ada saat ini persis sama dengan yang disampaikan kepada Muhammad, kemudian disampaikan lagi kepada pengikutnya, yang kemudian menghapalkan dan menulis isi Al Qur'an tersebut. Secara umum para ulama menyepakati bahwa versi Al-Qur'an yang ada saat ini, pertama kali dikompilasi pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan (khalifah Islam ke-3) yang berkisar antara 650 hingga 656 M. Utsman bin Affan kemudian mengirimkan duplikat dari versi kompilasi ini ke seluruh penjuru kekuasaan Islam pada masa itu dan memerintahkan agar semua versi selain itu dimusnahkan untuk keseragaman.[22]
Al-Qur'an memiliki 114 surah , dan sejumlah 6.236 ayat (terdapat perbedaan tergantung cara menghitung).[23] Hampir semua Muslim menghafal setidaknya beberapa bagian dari keseluruhan Al-Qur'an, mereka yang menghafal keseluruhan Al-Qur'an dikenal sebagai hafiz (jamak:huffaz). Pencapaian ini bukanlah sesuatu yang jarang, dipercayai bahwa saat ini terdapat jutaan penghapal Al-Qur'an diseluruh dunia. Di Indonesia ada lomba Musabaqah Tilawatil Qur'an yaitu lomba membaca Al-Qur'an dengan tartil atau baik dan benar. Yang membacakan disebut Qari (pria) atau Qariah (wanita).
Muslim juga percaya bahwa Al-Qur'an hanya berbahasa Arab. Hasil terjemahan dari Al-Qur'an ke berbagai bahasa tidak merupakan Al-Qur'an itu sendiri. Oleh karena itu terjemahan hanya memiliki kedudukan sebagai komentar terhadap Al-Qur'an ataupun hasil usaha mencari makna Al-Qur'an, tetapi bukan Al-Qur'an itu sendiri.

Nabi Muhammad S.A.W

Muhammad (570-632) adalah nabi terakhir dalam ajaran Islam dimana mengakui kenabiannya merupakan salah satu syarat untuk dapat disebut sebagai seorang muslim (lihat syahadat). Dalam Islam Muhammad tidak diposisikan sebagai seorang pembawa ajaran baru, melainkan merupakan penutup dari rangkaian nabi-nabi yang diturunkan sebelumnya.
Terlepas dari tingginya statusnya sebagai seorang Nabi, Muhammad dalam pandangan Islam adalah seorang manusia biasa. Namun setiap perkataan dan perilaku dalam kehidupannya dipercayai merupakan bentuk ideal dari seorang muslim. Oleh karena itu dalam Islam dikenal istilah hadits yakni kumpulan perkataan (sabda), perbuatan, ketetapan maupun persetujuan Muhammad. Hadits adalah teks utama (sumber hukum) kedua Islam setelah Al Qur'an.

Sejarah

Masa sebelum kedatangan Islam

Jazirah Arab sebelum kedatangan agama Islam merupakan sebuah kawasan perlintasan perdagangan dalam Jalan Sutera yang menjadikan satu antara Indo Eropa dengan kawasan Asia di timur. Kebanyakan orang Arab merupakan penyembah berhala dan ada sebagian yang merupakan pengikut agama-agama Kristen dan Yahudi. Mekkah adalah tempat yang suci bagi bangsa Arab ketika itu, karena di sana terdapat berhala-berhala agama mereka, telaga Zamzam, dan yang terpenting adalah Ka'bah. Masyarakat ini disebut pula Jahiliyah atau dalam artian lain bodoh. Bodoh disini bukan dalam intelegensianya namun dalam pemikiran moral. Warga Quraisy terkenal dengan masyarakat yang suka berpuisi. Mereka menjadikan puisi sebagai salah satu hiburan disaat berkumpul di tempat-tempat ramai.

Masa awal


Negara-negara dengan populasi Muslim mencapai 10% (hijau dengan dominan sunni, merah dengan dominan syi'ah) (Sumber - CIA World Factbook, 2004).
Islam bermula pada tahun 611 ketika wahyu pertama diturunkan kepada rasul yang terakhir yaitu Muhammad bin Abdullah di Gua Hira', Arab Saudi.
Muhammad dilahirkan di Mekkah pada tanggal 12 Rabiul Awal Tahun Gajah (571 masehi). Ia dilahirkan ditengah-tengah suku Quraish pada zaman jahiliyah, dalam kehidupan suku-suku padang pasir yang suka berperang dan menyembah berhala. Muhammad dilahirkan dalam keadaan yatim, sebab ayahnya Abdullah wafat ketika ia masih berada di dalam kandungan. Pada saat usianya masih 6 tahun, ibunya Aminah meninggal dunia. Sepeninggalan ibunya, Muhammad dibesarkan oleh kakeknya Abdul Muthalib dan dilanjutkan oleh pamannya yaitu Abu Talib. Muhammad kemudian menikah dengan seorang janda bernama Siti Khadijah dan menjalani kehidupan secara sederhana.
Ketika Muhammad berusia 40 tahun, ia mulai mendapatkan wahyu yang disampaikan Malaikat Jibril, dan sesudahnya selama beberapa waktu mulai mengajarkan ajaran Islam secara tertutup kepada para sahabatnya. Setelah tiga tahun menyebarkan Islam secara sembunyi-sembunyi, akhirnya ajaran Islam kemudian juga disampaikan secara terbuka kepada seluruh penduduk Mekkah, yang mana sebagian menerima dan sebagian lainnya menentangnya.
Pada tahun 622 masehi, Muhammad dan pengikutnya berpindah ke Madinah. Peristiwa ini disebut Hijrah, dan semenjak peristiwa itulah dasar permulaan perhitungan kalender Islam. Di Madinah, Muhammad dapat menyatukan orang-orang anshar (kaum muslimin dari Madinah) dan muhajirin (kaum muslimin dari Mekkah), sehingga semakin kuatlah umat Islam. Dalam setiap peperangan yang dilakukan melawan orang-orang kafir, umat Islam selalu mendapatkan kemenangan. Dalam fase awal ini, tak terhindarkan terjadinya perang antara Mekkah dan Madinah.
Keunggulan diplomasi nabi Muhammad SAW pada saat perjanjian Hudaibiyah, menyebabkan umat Islam memasuki fase yang sangat menentukan. Banyak penduduk Mekkah yang sebelumnya menjadi musuh kemudian berbalik memeluk Islam, sehingga ketika penaklukan kota Mekkah oleh umat Islam tidak terjadi pertumpahan darah. Ketika Muhammad wafat, hampir seluruh Jazirah Arab telah memeluk agama Islam.

Khalifah Rasyidin

Khalifah Rasyidin atau Khulafaur Rasyidin memilki arti pemimpin yang baik diawali dengan kepemimpinan Abu Bakar, dan dilanjutkan oleh kepemimpinan Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abu Thalib. Pada masa ini umat Islam mencapai kestabilan politik dan ekonomi. Abu Bakar memperkuat dasar-dasar kenegaraan umat Islam dan mengatasi pemberontakan beberapa suku-suku Arab yang terjadi setelah meninggalnya Muhammad. Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abu Thalib berhasil memimpin balatentara dan kaum Muslimin pada umumnya untuk mendakwahkan Islam, terutama ke Syam, Mesir, dan Irak. Dengan takluknya negeri-negeri tersebut, banyak harta rampasan perang dan wilayah kekuasaan yang dapat diraih oleh umat Islam.

Masa kekhalifahan selanjutnya

Setelah periode Khalifah Rasyidin, kepemimpinan umat Islam berganti dari tangan ke tangan dengan pemimpinnya yang juga disebut "khalifah", atau kadang-kadang "amirul mukminin", "sultan", dan sebagainya. Pada periode ini khalifah tidak lagi ditentukan berdasarkan orang yang terbaik di kalangan umat Islam, melainkan secara turun-temurun dalam satu dinasti (bahasa Arab: bani) sehingga banyak yang menyamakannya dengan kerajaan; misalnya kekhalifahan Bani Umayyah, Bani Abbasiyyah, hingga Bani Utsmaniyyah.
Besarnya kekuasaan kekhalifahan Islam telah menjadikannya salah satu kekuatan politik yang terkuat dan terbesar di dunia pada saat itu. Timbulnya tempat-tempat pembelajaran ilmu-ilmu agama, filsafat, sains, dan tata bahasa Arab di berbagai wilayah dunia Islam telah mewujudkan satu kontinuitas kebudayaan Islam yang agung. Banyak ahli-ahli ilmu pengetahuan bermunculan dari berbagai negeri-negeri Islam, terutamanya pada zaman keemasan Islam sekitar abad ke-7 sampai abad ke-13 masehi.
Luasnya wilayah penyebaran agama Islam dan terpecahnya kekuasaan kekhalifahan yang sudah dimulai sejak abad ke-8, menyebabkan munculnya berbagai otoritas-otoritas kekuasaan terpisah yang berbentuk "kesultanan"; misalnya Kesultanan Safawi, Kesultanan Turki Seljuk, Kesultanan Mughal, Kesultanan Samudera Pasai dan Kesultanan Malaka, yang telah menjadi kesultanan-kesultanan yang memiliki kekuasaan yang kuat dan terkenal di dunia. Meskipun memiliki kekuasaan terpisah, kesultanan-kesultanan tersebut secara nominal masih menghormati dan menganggap diri mereka bagian dari kekhalifahan Islam.
Pada kurun ke-18 dan ke-19 masehi, banyak kawasan-kawasan Islam jatuh ke tangan penjajah Eropa. Kesultanan Utsmaniyyah (Kerajaan Ottoman) yang secara nominal dianggap sebagai kekhalifahan Islam terakhir, akhirnya tumbang selepas Perang Dunia I. Kerajaan ottoman pada saat itu dipimpin oleh Sultan Muhammad V. Karena dianggap kurang tegas oleh kaum pemuda Turki yang di pimpin oleh mustafa kemal pasha atau kemal attaturk, sistem kerajaan dirombak dan diganti menjadi republik.

Demografi

Saat ini diperkirakan terdapat antara 1.250 juta hingga 1,4 miliar umat Muslim yang tersebar di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut sekitar 18% hidup di negara-negara Arab, 20% di Afrika, 20% di Asia Tenggara, 30% di Asia Selatan yakni Pakistan, India dan Bangladesh. Populasi Muslim terbesar dalam satu negara dapat dijumpai di Indonesia. Populasi Muslim juga dapat ditemukan dalam jumlah yang signifikan di Republik Rakyat Cina, Amerika Serikat, Eropa, Asia Tengah, dan Rusia.
Pertumbuhan Muslim sendiri diyakini mencapai 2,9% per tahun, sementara pertumbuhan penduduk dunia hanya mencapai 2,3%. Besaran ini menjadikan Islam sebagai agama dengan pertumbuhan pemeluk yang tergolong cepat di dunia. [1]. Beberapa pendapat menghubungkan pertumbuhan ini dengan tingginya angka kelahiran di banyak negara Islam (enam dari sepuluh negara di dunia dengan angka kelahiran tertinggi di dunia adalah negara dengan mayoritas Muslim [2]. Namun belum lama ini, sebuah studi demografi telah menyatakan bahwa angka kelahiran negara Muslim menurun hingga ke tingkat negara Barat. [3]

Tempat ibadah

Rumah ibadat umat Muslim disebut masjid atau mesjid. Ibadah yang biasa dilakukan di Masjid antara lain salat berjama'ah, ceramah agama, perayaan hari besar, diskusi agama, belajar mengaji (membaca Al-Qur'an) dan lain sebagainya.

Sumber