“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. 134. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Q.S. al‘Imrân [3]: 133-134)
Hah, terserah Allah sajalah dimana pun Ia mau meletakkannya, yang jelas tidak mungkin si surga mau berdomisili di Indonesia. Pasalnya, di Indonesia yang tidak punya KTP ditangkepin ama aparat. Kasian nanti jadinya kalau surga harus repot-repot mengurus KTP sendiri. Kan buat KTP di Indonesia harus banyak infaqnya. “he…he…”. Jika demikian adanya, tidak ada yang mengetahui alamat surga, maka yang dimaksud oleh Allah dalam ayat tersebut adalah bergegaslah kamu sekalian menyiapkan seluruh peralatan dan perlengkapan yang diperlukan oleh orang yang hendak “mendomisilikan” dirinya di surga.
Selanjutnya penulis ingin mengatakan bahwa mempersiapkan perbekalan ke surga adalah suatu perbuatan yang wajib pelaksanaannya. Hal ini sesuai dengan kaidah yang tersirat dalam fi’il amar “sāri’ū” pada ayat terdahulu. Kaidah termaksud adalah al-ashlu fī al-amri li al-wujūb. Pada dasarnya suatu perintah digunakan untuk mewajibkan. Dan karena mempersiapkan bekal menuju surga merupakan perintah Allah, maka wajib bagi kita semua untuk mempersiapkannya.
Lalu apakah yang harus dipersiapkan oleh orang yang ingin melaksanakan perintah Allah itu? Jawaban dari pertanyaan ini terdapat pada bagian akhir ayat tersebut. Penggalan ayat yang dimaksud adalah u’iddat li al-muttaqīn, surga yang dijanjikan bagi orang-orang yang bertaqwa. Jadi yang harus dilakukan untuk menjadi penghuni surga hanya cukup dengan menjadi orang yang bertaqwa. Terlalu simpel kata taqwa itu sepertinya, hingga membuat banyak pihak bertanya-tanya bagaimanakah cara menjadi orang yang bertaqwa? Sungguh patut kita bersyukur, karena kita memiliki Tuhan yang sungguh terlalu baik-Nya. Allah lalu memberikan kisi-kisi sekaligus tips untuk menjadi orang bertaqwa sesuai yang dimaksudkan dalam ayat tersebut.
Ciri-ciri dan Tips Menjadi Orang yang Bertaqwa
Pertama, orang-orang yang menafkahkan hartanya. Terjemahan kata الَّذِينَ يُنفِقُونَ yang terdapat pada ayat selanjutnya. Yang perlu diperhatikan adalah, saat menurunkan ayat tersebut Allah menyertakan kata فِي السَّرَّاء وَالضَّرَّاء (di saat lapang dan di saat sempit) setelah kata الَّذِينَ يُنفِقُون. Dengan demikian maka hendaknya kesediaan untuk menafkahkan harta tidak hanya pasang pada saat lapang dan surut di kala sempit, tapi selalu pasang baik lapang ataupun sempit keadaan yang dihadapi. Banyak uang atau tidak bagi orang yang bertaqwa infaq adalah suatu hal yang akan dilakukannya.
Lantas bagaimanakah cara berinfaq yang bisa diikuti oleh semua kalangan? Jawaban atas pertanyaan ini adalah sebagaimana yang pernah di lakukan oleh para sahabat ketika hendak menghadapi perang tabuk bersama Rasulullah s.a.w. Bagi orang yang memang ikhlas dan mampu untuk menafkahkan semua hartanya maka ikutilah jejak sahabat Abu Bakar r.a. yang menafkahkan seluruh hartanya. Bagi orang yang memang tidak mampu untuk menafkahkan semua hartanya, cukuplah baginya untuk menafkahkan sebagian dari hartanya seperti yang dilakukan olah sahabat ‘Utsman r.a. Dan bagi siapapun yang memang tidak memiliki kemampuan untuk berinfaq dikarenakan keterbatasan ekonomi, maka dia bisa menafkahkan jiwa dan raganya untuk kepentingan agama Allah S.W.T. Hal ini sebgaimana yang di contohkan oleh sahabat Ali bin Aby Thalib k.w. yang tidak memiliki harta sepeserpun untuk dinfaqkan.
Demikian tips pertama yang bisa dilakukan jikalau kita memang ingin menjadi orang yang bertaqwa. Yaitu membiasakan diri untuk menafkahkan harta yang dimiliki. Baik sebagian dari harta ataupun semuanya. Baik di kala lapang ataupun sempit.
Kedua, orang yang menahan amarah. Tips kedua untuk menjadi orang yang bertaqwa adalah menahan amarah. Cara kedua ini merupakan terjemahan dari kata الْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ yang diartikan dengan orang-orang yang menahan amarah. Yang perlu diperhatikan dalam tips kedua ini adalah proses menahan amarah bukanlah suatu perbuatan tanpa objek, tapi suatu upaya yang melibatkan hal-hal yang membuat subyek harus mampu bersabar menahan amarah. Hal ini dapat di ketahui dari digunakannya kata kādzimīn oleh Allah.
Kata kādzimīn yang biasa diartikan dengan orang-orang yang menahan adalah bentuk fa’il dari kata kerja atau fi’il mādhi yang muta’adi. Yaitu kata kerja yang tidak bisa berdiri sempurna kecuali dengan adanya obyek yang menyertainya. Dengan demikian maka proses menahan amarah yang dimaksud dalam ayat tersebut bukanlah menahan amarah pada saat yang netral saja tapi menahan amarah pada saat ada sesuatu hal yang memang membuat seseorang benar-benar merasa ingin marah. Harus ada konflik yang menguji kesabarannya dulu baru dia bisa menjadi golongan kādzimīn.
Sangat wajar jikalau orang bisa mengatur stabilizer amarahnya pada saat tidak ada masalah yang dihadapi, karena yang berat adalah menjaganya di saat ada suatu cobaan yang berat. Inilah yang kemudian menjadi nilai plus bagi orang-orang yang mampu menstabilkan amarahnya disetiap keadaan. Mau dikatakan berat memang berat rasanya, tapi hal ini menjadi tantangan yang harus ditakklukkan oleh orang yang memang ingin menjadi orang yang bertaqwa dan tentunya masuk surga. Ia harus mampu bersabar dalam keadaan-keadaan yang sepatutnya ia emosi atau marah sehingga Allah menaikkan derajatnya menjadi orang yang bertaqwa, karena seorang yang memang bertaqwa kepada Allah akan sanggup menahan amarahnya di setiap keadaan yang ia hadapi.
Ketiga, memaafkan orang lain. Memaafkan orang lain adalah terjemahan dari الْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ. Kata ini (maaf) adalah kata yang sangat ringan pengucapannya, namun ia seringkali terasa berat untuk diberikan kepada orang yang memintanya. Dalam kehidupan sehari-hari begitu banyak perkataan yang disampaikan ke orang lain dan begitu banyak perbuatan yang tujukan ke orang lain. Di antara puluhan hingga ratusan kata dan perbuatan itu, sangat mungkin sebagian di antaranya menyebabkan orang lain marah. Apa yang dilakukan bila kita bersalah pada orang lain?
Dalam al-Qur’ân, sebagaimana diungkapkan ahli tafsir terkemuka di Indonesia, Prof. Dr. Quraish Shihab, tidak ditemukan perintah untuk meminta maaf. Namun, dalam al-Hadits ditemukan perintah untuk menghalalkan dosa-dosa yang dilakukannya terhadap orang lain, yang berarti dia diminta untuk meminta maaf atau dimaafkan. Hal ini sebagaimana diungkapkan sebuah hadits Nabi saw.
Abu Hurairah berkata, telah bersabda Rasulullah saw, “Barangsiapa pernah melakukan kedzaliman terhadap saudaranya, baik menyangkut kehormatannya atau sesuatu yang lain, maka hendaklah ia minta dihalalkan darinya hari ini, sebelum dinar dan dirham tidak berguna lagi (hari kiamat). (Kelak) jika dia memiliki amal shaleh, akan diambil darinya seukuran kedzalimannya. Dan jika dia tidak mempunyai kebaikan (lagi), akan diambil dari keburukan saudara (yang dizalimi) kemudian dibenamkan kepadanya. (HR al-Bukhari).
Oleh karenannya kata maaf ini memiliki nilai yang sangat besar di sisi Allah S.W.T. Bagaimana tidak, ketika seseorang disakiti, dan dizhalimi oleh orang lain, dia tidak mendoakan yang buruk ataupun membalas dendam, tapi justru memberikan maaf kepada orang yang bersalah tersebut. Padahal, apabila orang yang dizhalimi tersebut mau berdoa kepada Allah untuk keburukan si zhālim maka doanya tidaklah terhalang. Oleh sebab itulah Allah memberikan derajat taqwa bagi orang-orang yang mau memafkan orang yang bersalah kepadanya. Dan Allah akan memberikan “door prize” kepadanya, yaitu surga rumah kebahagiaan.
Penutup
Terakhir penulis mengajak seluruh pembaca untuk bersama-sama memenuhi panggilan Allah ke surga dengan bersama-sama berusaha menjadi orang yang bertaqwa. Tentu dengan meningkatkan hobi dalam berinfaq, menahan amarah, dan memberi maaf kepada orang lain. Ja’alanā Allāhu wa iyyākum min al-fāizīn al-āminīn. wa Allâhu a’lam bi al-Shawwāb.
Sumber

Tidak ada komentar:
Posting Komentar